Yatlunah: Mengembalikan Pembelajaran Al-Qur’an kepada Kaidah Aslinya

Metode Yatlunah hadir untuk mengembalikan pembelajaran Al-Qur’an kepada kaidah aslinya — berlandaskan makhraj, sifat huruf, dan tartil sebagaimana diwariskan Rasulullah ﷺ.

ARTIKEL EDUKATIF

Ruang Hijaiyyah Tim

10/14/20252 min read

a close up of a decorative tile on a wall
a close up of a decorative tile on a wall

Dalam beberapa dekade terakhir, cara membaca Al-Qur’an di banyak tempat mengalami pergeseran.
Sebagian pengajar lebih menekankan kelancaran bacaan daripada ketepatan bunyi huruf, sementara sebagian peserta didik terbiasa meniru tanpa memahami dari mana bunyi huruf itu keluar.

Akibatnya, banyak bacaan terdengar fasih secara ritme, tetapi belum benar secara makhraj dan sifat huruf.
Padahal, para ulama tajwid sejak masa Rasulullah ﷺ hingga Imam Ibnul Jazari menekankan bahwa bacaan yang benar tidak akan tegak tanpa ilmu makhraj dan sifat huruf.

1. Kaidah Asli Pembelajaran Al-Qur’an

Kaidah asli dalam membaca Al-Qur’an bersumber dari cara Rasulullah ﷺ mengajarkannya kepada para sahabat — huruf demi huruf, suara demi suara.
Sebagaimana sabda beliau:

“Ambillah bacaan Al-Qur’an dari empat orang: Abdullah bin Mas‘ud, Salim, Mu‘adz, dan Ubay bin Ka‘b.”
(HR. al-Bukhari)

Mereka belajar langsung dari lisan Nabi ﷺ, bukan dari tulisan.
Itulah inti pembelajaran Al-Qur’an yang tartil dan bersanad — bacaan yang ditransmisikan melalui pendengaran dan pemahaman tempat keluarnya huruf.

2. Mengapa Yatlunah Hadir

Metode Yatlunah lahir dari keprihatinan terhadap pergeseran arah pembelajaran Al-Qur’an di banyak lembaga — dari makna “tartil” menjadi sekadar “lancar.”

Yatlunah hadir untuk mengembalikan pembelajaran Al-Qur’an kepada kaidah aslinya:

  • Mengajarkan huruf berdasarkan makhārijul ḥurūf dan sifat-sifatnya.

  • Menggabungkan teori tajwid dengan latihan langsung yang sistematis.

  • Menyusun tahapan dari huruf tunggal, sambungan dua hingga empat huruf, hingga ayat utuh.

Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya membaca, tetapi memahami struktur bunyi dan makna setiap huruf.

3. Kembali ke Jalan Tartil

Dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4, Allah berfirman:

(وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا )


“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”

Tartil berarti membaca dengan tenang, perlahan, dan benar menurut kaidah tajwid.
Inilah yang menjadi tujuan utama Yatlunah — mengembalikan ruh tartil dalam proses pembelajaran, bukan sekadar mempercepat hafalan atau menyelesaikan target halaman.

4. Yatlunah Sebagai Sistem Pembelajaran Bertahap

Buku Yatlunah disusun dalam enam jilid yang mengikuti perkembangan kemampuan santri, mulai dari mengenal huruf hingga menguasai hukum bacaan tingkat lanjut.
Setiap jilid memadukan:

  • Urutan makhraj huruf yang ilmiah,

  • Latihan tajwid aplikatif,

  • dan tema ayat yang mengandung nilai amaliah, agar peserta didik memahami makna di balik bacaannya.

Dengan demikian, Yatlunah bukan hanya buku baca, tetapi metode hidup untuk menumbuhkan kefasihan, ketelitian, dan penghayatan dalam membaca Al-Qur’an.

Penutup

Mengajarkan Al-Qur’an berarti meneladani cara Rasulullah ﷺ menuntunkan setiap huruf kepada umatnya.
Melalui Yatlunah, Ruang Hijaiyyah berupaya menghidupkan kembali tradisi itu — mengembalikan pembelajaran Al-Qur’an kepada kaidah aslinya:

dari makhraj, menuju fasih, hingga mencapai tartil.

“Dan orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan (يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ).”
(QS. Al-Baqarah: 121)

✍️ Ruang Hijaiyyah
Pusat Pembelajaran Huruf Hijaiyyah dan Tartil Al-Qur’an